Survey di Amerika mengatakan, 60% manusia di dunia tidak punya impian, mereka hidup di bawah rata-rata. 30% manusia punya impian yang samar-samar, mereka hidup di garis rata-rata. 7% manusia mempunyai impian yang jelas, mereka hidup di atas rata-rata. 3% sisanya, manusia yang punya impian jelas dan tertulis (divisualisasikan dan didokumentasikan), memiliki kualitas hidup yang luar-biasa. Mereka adalah orang-orang yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Mereka pergi dan datang sesuka hati mereka ke tempat-tempat yang mereka inginkan.
Sejak saya kecil, sebenarnya benak saya sudah dipenuhi banyak sekali keinginan. Ingin ini dan ingin itu. Dan sebagai seorang koleris, saya selalu yakin bahwa suatu saat impian-impian saya pasti akan mampu saya wujudkan. Tapi saya belum tahu dengan cara apa saya bisa mewujudkan impian-impian saya.
Saya sekolah TK, SD, SMP, SMA dan kuliah secara biasa-biasa saja. Secara prestasi akademik saya tidak menonjol. Kecuali pada waktu SD, saya sering berpindah-pindah sekolah sehingga selama SD, kurang lebih saya bersekolah di 5 tempat. Nah, pada waktu kelas 3 SD, kebetulan saya sekolahnya di Jakarta. Pada waktu itu, pihak sekolah memberikan penghargaan berupa piagam bagi murid yang berprestasi minimal masuk ranking 3 besar di kelas masing-masing. Dan pemberian penghargaannya selalu heboh, karena setiap habis libur panjang usai ujian sebelum rapor dibagikan, sekolah pasti mengadakan upacara di halaman dan memanggil satu-persatu anak-anak yang berprestasi untuk maju dan menerima piagam mereka di hadapan anak-anak yang lain. Jiwa koleris saya tertantang dan selama bersekolah di tempat itu, nama saya selalu dipanggil maju untuk menerima piagam penghargaan sebagai ranking 1. Saya tidak bangga akan ranking 1-nya, melainkan perasaan puas bisa mengalahkan anak-anak lain di hadapan orang banyaklah yang paling saya nikmati. Padahal di sekolah sebelumnya, saya paling banter ranking 14, hehehe….
Tahun berikutnya saya pindah ke Makassar, dan terus terang tidak ada hal yang menantang sampai saya lulus SD sehingga prestasi sayapun biasa-biasa saja. Nah, menginjak SMP, lagi-lagi ada tradisi yang serupa. Suatu ketika waktu saya masih kelas 1 SMP, saya melihat kakak kelas yang namanya dipanggil ke depan pada waktu upacara dan diserahi piala karena telah berhasil memenangkan sebuah perlombaan di luar sekolah yang membawa nama sekolah. Mulailah sejak saat itu saya berprestasi silih berganti. Sejak kelas 2 sampai kelas 3 SMP, piala ini, piala itu dan piala anu saya sumbangkan untuk sekolah atas nama saya. Sering sekali nama saya dipanggil maju ke depan pada saat upacara.
Masuk SMA, santai lagi. Dan saya menjalani masa SMA dengan full main dan hura-hura. Saya bisa langsung lulus masuk Fakultas Teknik Unhas Jurusan Elektro, karena sebulan terakhir sebelum UMPTN saya belajar habis-habisan dengan 1 alasan di kepala saya, saya tidak mau orang lain lulus dan saya tidak! Seperti biasanya, saya lulus dong…Hehehe…
Di kuliahan, lagi-lagi tidak ada satu hal pun yang memotivasi saya. Nihil! Kenapa? Karena sama sekali tidak ada tantangan yang membuat saya terpacu untuk ini dan itu. Saya senang dengan teman-teman saya, saya senang dengan suasana kampus, tapi saya tidak termotivasi dengan program perkuliahan. Saya melihat senior-senior yang sudah lulus dari jurusan yang sama bahkan mereka yang lulus dengan IPK yang tinggi-tinggi, termasuk teman-teman saya yang lebih duluan lulus dari saya (bukan berarti mereka lebih pintar daripada saya, hehe…), kehidupan mereka pasca kelulusan juga tidak mampu menjawab impian-impian saya. Banyak yang akhirnya menikah dengan orang yang mereka suka, tapi toh harus hidup terpisah kota karena tuntutan pekerjaan. Buat saya, itu bukan pilihan hidup yang saya inginkan. Salah satu impian saya sejak SMA adalah saya ingin pacaran terus dengan istri saya nantinya. Melewatkan banyak waktu bersama-sama tanpa pusing mikirin hal lainnya. Bahkan banyak juga yang dilempar sana-sini oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Kadang-kadang dalam setahun bisa lebih dari 3 kali dilempar. Kalo jalan-jalan sih enak, tapi kalo untuk urusan kerja mah, gak deh kayaknya….apalagi kalo hati terpaksa. Karena kalo kita gak nurut, kan pasti diomelin boss, iya gak? Koleris seperti saya gak suka disuruh-suruh.
Oya, mungkin saya lupa ceritakan, seorang koleris seperti saya selalu percaya diri. Saya sebenarnya yakin seyakin-yakinnya bahwa kalo saya cukup rajin sedikit saja, saya pasti bisa dapatkan IPK tinggi, lulus cepat dan dapat pekerjaan secepat itu juga. Bahkan saya juga percaya bahwa di perusahaan manapun saya ditempatkan, tidak perlu menunggu lama saya pasti sudah akan naik jabatan dan beberapa tahun berikutnya jadi manager, dst…dst. Saya tidak pernah ragu sedikitpun dengan kemampuan diri saya sendiri. Ini bukan sombong, tapi ini adalah PD ala koleris, hehehe….
Sampai akhirnya saya mengenal bisnis Network Marketing (yang awalnya saya anggap sebagai bisnis kelas dua) sekitar dua tahun yang lalu. Di sini saya belajar mengenai impian dan saya mulai memfokuskan impian saya pada apa yang saya betul-betul inginkan. Tentu saja saya melakukan kesalahan disana-sini, tapi bukan Andika namanya kalo tidak segera menemukan iramanya. Dan terus-terang, saya mendapatkan banyak hal yang saya inginkan di bisnis ini. Selain impian-impian saya mulai terpenuhi satu persatu, bisnis ini banyak menawarkan tantangan untuk dihadapi.
Kata orang bisnis ini “kurang etis” dan “materialistis” karena hanya mengejar uang, uang dan uang. Kata siapa? Dalam hati koleris saya bilang,”Lho, yang bangun pagi pulang malam kerja 8 jam sehari demi uang siapa? Kok saya jadinya yang matre?” Kalau saya cuma mau uang, gak bakalan saya mau jalankan bisnis jaringan lageee…. Kalau hanya uang yang saya incar, saya tinggal cari kerja di perusahaan besar, tampil gemilang pada saat tes wawancara dan memotivasi diri untuk berprestasi bagus. Saya pasti mampu melakukan itu. Saya pasti cepat naik jabatan dan punya gaji yang besar. Tapi (untung gak terlambat) saya baca di sebuah buku bahwa “hanya orang rata-rata yang mencari pekerjaan untuk mendapatkan uang, sedangkan orang-orang sukses bekerja untuk belajar dan uang hanyalah efek sampingnya”.
Banyak sekali keanehan manusia yang saya temui di bisnis ini. Ada yang kepingin sukses secepat kilat, tapi berharap kesuksesan turun dari langit tanpa mau melewati prosesnya. Ada juga yang menjalankan bisnis ini dengan cara-cara yang tidak profesional dan membuat orang lain jadi tidak nyaman.
Ah, intinya impian bagi saya bukan hanya salah satu dari jutaan kata benda lainnya. Bagi saya sekarang, impian adalah sesuatu yang mutlak dimiliki untuk mendapatkan kualitas hidup yang saya inginkan. Kalau saya tidak punya impian, saya hanya akan berakhir seperti orang rata-rata. Impian membantu saya bergerak dan membuat saya terus termotivasi. Impian dapat berarti puncak sebuah gunung bagi seorang pendaki dan garis finish bagi seorang pelari. Tapi kebanyakan orang rela menawar impian mereka karena berpedoman pada kondisi mereka saat ini. Yang lebih parahnya, sebagiannya lagi justru menyerahkan impian mereka pada orang lain. Saya gak mau impian saya didiskon, makanya saya gak mau mendiskon harga yang harus dibayar demi impian saya.
Tuesday, November 28, 2006
Koleris
Dari buku Personality Plus (Florence Littauer), salah satu dari empat watak dasar manusia adalah Koleris. Seorang koleris selalu memiliki tanda-tanda umum seperti keras kepala, ngotot, tidak mau kalah dan sangat percaya diri dalam artian yang sebenarnya. Mereka adalah pemilik kepribadian yang kuat dan sangat percaya bahwa apapun bisa terlaksana dengan sempurna hanya jika mereka yang memimpin. Dan kepercayaan mereka tersebut hampir selalu terbukti benar, karena seorang koleris memang terlahir dengan bakat memimpin yang sangat besar. Itulah sebabnya mereka tampak seperti selalu memerintah orang lain. Sebaliknya, jarang sekali orang-orang di sekitar seorang koleris yang berani berkonfrontasi langsung dengannya. Selain karena orang-orang koleris memang memiliki aura yang membuat orang lain ragu, mereka juga akan mati-matian mempertahankan pendapatnya, tidak peduli salah atau benar.
Masa kecil seorang koleris pastilah bagaikan seorang raja/ratu. Bocah koleris akan sering merampas mainan temannya, membuat temannya menangis. Tetapi bila tiba saatnya berpetualang, bocah koleris akan memimpin teman-temannya berlari, memanjat pohon dan masuk ke dalam selokan.
Seorang koleris dewasa, jika dibekali pengetahuan yang cukup akan menjadi seorang pelopor dalam bidangnya. Mereka selalu dapat diandalkan untuk berada di barisan terdepan dan memberi contoh kepada yang lain bahwa tidak ada salahnya menyeberangi lautan api kalau itu yang diperlukan demi mencapai apa yang mereka inginkan.
Sayangnya, seorang koleris selalu sangat egois. Mereka sering kali memusatkan dunia pada diri mereka dan dengan demikian orang lain juga harus begitu. Tetapi, dunia sangat membutuhkan koleris yang mau memahami orang lain. Dunia amat-sangat membutuhkan orang-orang koleris yang bersedia berbuat untuk kepentingan orang banyak. Entah itu ketua kelas, kapten tim sepakbola, seorang manager, panglima perang, pemimpin organisasi dan negarawan ternama acapkali adalah seorang koleris.
Saya adalah seorang Koleris-Sanguinis dan blog ini saya buat untuk menampung sisi koleris saya.
Masa kecil seorang koleris pastilah bagaikan seorang raja/ratu. Bocah koleris akan sering merampas mainan temannya, membuat temannya menangis. Tetapi bila tiba saatnya berpetualang, bocah koleris akan memimpin teman-temannya berlari, memanjat pohon dan masuk ke dalam selokan.
Seorang koleris dewasa, jika dibekali pengetahuan yang cukup akan menjadi seorang pelopor dalam bidangnya. Mereka selalu dapat diandalkan untuk berada di barisan terdepan dan memberi contoh kepada yang lain bahwa tidak ada salahnya menyeberangi lautan api kalau itu yang diperlukan demi mencapai apa yang mereka inginkan.
Sayangnya, seorang koleris selalu sangat egois. Mereka sering kali memusatkan dunia pada diri mereka dan dengan demikian orang lain juga harus begitu. Tetapi, dunia sangat membutuhkan koleris yang mau memahami orang lain. Dunia amat-sangat membutuhkan orang-orang koleris yang bersedia berbuat untuk kepentingan orang banyak. Entah itu ketua kelas, kapten tim sepakbola, seorang manager, panglima perang, pemimpin organisasi dan negarawan ternama acapkali adalah seorang koleris.
Saya adalah seorang Koleris-Sanguinis dan blog ini saya buat untuk menampung sisi koleris saya.
Subscribe to:
Posts (Atom)